Anemia: ''Penyakit Kurang Darah yang Sering Diabaikan''

Pengertian Anemia


Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah nilai normal. Hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jika kadar hemoglobin rendah, suplai oksigen ke jaringan tubuh akan berkurang sehingga tubuh menjadi mudah lelah dan lemah.

Anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin dan eritrosit berada di bawah batas normal. Anemia menurut World Health Organization (WHO) didefiniskan sebagai suatu kondisi dimana hemoglobin dalam darah kurang dari normal karena kekurangan satu atau lebih nutrisi penting, terlepas dari penyebab defisiensi tersebut. Prevalensi anemia di seluruh dunia di kalangan remaja adalah 15% (27% di negara berkembang dan 6% di negara maju) (Indriani et al., 2023). 

Menurut Shaka & Wondimagegne (2018) menunjukkan bahwa orang yang lebih rentan terhadap anemia adalah remaja wanita, perempuan dalam keadaan fisiologis seperti menstruasi, remaja dengan status sosial ekonomi rendah, remaja dengan defisiensi makronutrien dan remaja dengan infeksi malaria dan cacing. Anemia dapat menyebabkan gejala seperti kelelahan, kelemahan, dan penurunan konsentrasi. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kekurangan gizi, infeksi, faktor genetik, dan kondisi kronis. Kekurangan zat besi merupakan penyebab anemia yang paling umum, terutama di kalangan wanita usia produktif termasuk remaja putri. Menurut World Health Organization (2019), defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia global, khususnya di negara berkembang, dimana pola makan rendah zat besi heme dari sumber hewani lebih umum. Vitamin B12 dan asam folat merupakan komponen esensial untuk pembentukan sel darah merah yang mengandung hemoglobin. 


Penyebab dan Faktor Risiko

Anemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain kekurangan zat besi, asam folat, atau vitamin B12, kehilangan darah akibat menstruasi berlebihan, perdarahan, penyakit kronis, serta infeksi tertentu. Pola makan yang kurang bergizi juga menjadi faktor utama terjadinya anemia.

Menurut Dewi (2020) faktor – faktor yang mempengaruhi kejadian anemia yang meliputi meningkatnya kebutuhan zat besi yang memuncak di usia 14-15 tahun untuk pertumbuhan dan perkembangan serta proses menstruasi, kurangnya asupan zat besi, kehamilan pada usia remaja, penyakit infeksi dan infeksi parasit, sosial ekonomi, status gizi yang menunjukkan bahwa remaja dengan status gizi kurus mempunyai risiko mengalami anemia 1,5 kali dibandingkan remaja dengan status gizi normal dan pengetahuan. Hasil penelitian dari Alexander (2020) remaja putri yang memiliki status gizi kurus mempunyai peluang 2,565 kali untuk mengalami anemia dibandingkan remaja putri yang memiliki status gizi yang normal. 

Gejala Anemia

Gejala anemia sering muncul secara perlahan dan tidak selalu disadari. Beberapa tanda yang umum terjadi antara lain:

  • Mudah lelah dan lemah

  • Wajah tampak pucat

  • Pusing dan sakit kepala

  • Sesak napas saat beraktivitas

  • Jantung berdebar

Jika tidak ditangani, gejala dapat semakin memburuk.


Dampak Anemia bagi Kesehatan

Anemia yang berlangsung lama dapat menurunkan daya tahan tubuh, mengganggu konsentrasi, serta meningkatkan risiko komplikasi pada ibu hamil seperti bayi lahir dengan berat badan rendah. Pada anak dan remaja, anemia dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan.

Pencegahan dan Penanganan Anemia

Anemia dapat dicegah dan diatasi dengan mengonsumsi makanan bergizi yang kaya zat besi, seperti daging merah, hati, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Konsumsi vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi. Selain itu, suplemen zat besi dapat diberikan sesuai anjuran tenaga kesehatan.











Komentar

Postingan Populer